MENGENAL
MERAPI DAN MASYARAKATNYA
Salah
satu ikon dari Kota Yogyakarta adalah Gunung Merapi. Tak bisa di alihkan dari
pandangan mata, gunung ini berdiri tegak dengan ketinggian 2917 mdpl di bagian
utara Provinsi DIY. Banyak sekali cerita mengenai gunung ini. Gunung Merapi
yang merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia ini memiliki
koordinat 7⁰32’31”S
110⁰26’46”E.
Gunung Merapi meliputi 4 kabupaten, Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten.
Gunung
ini merupakan gunung api dengan tipe strato dan terbentuk dari lapisan endapan
piroklastik dan aliran lava. Magmanya bertipe andesit basaltic dengan kandungan
oksida silika sebesar 52% - 56%. Ciri khas gunung ini adalah letusannya yang
bersifat efusif dan eksplosif.
Salah
satu faktor pembentuk Merapi adalah hasil dari aktivitas zona subduksi antara
lempeng Indoaustralia yang menunjam lempeng Eurasia. Magma dari partial melting
mendapatkan titik lemah di bawah gunung Merapi sekarang berdiri, magma
andesit-basaltic memanaskan permukaan bumi dan terbentuklah gunung api.
Sehingga Merapi ini memiliki sumber magma berasal dari partial melting sebagai
konsekuensi zona subduksi.
Sejarah
pembentukan merapi ini di pelajari oleh Berthomier,
1990; Newhall & Bronto, 1995; Newhall et.al, 2000 yang menemukan unit-unit
stratigrafi di Merapi yang mendetil. Menurut Berthommier,1990 berdasarkan studi
stratigrafi, sejarah Merapi dapat dibagi atas 4 bagian, Pra Merapi, Merapi Tua, Merapi Pertengahan dan Merapi Baru.
1.
PRA
MERAPI (±400.000 tahun lalu)
Periode ini di awali dengan
terbentuknya gunung Bibi yang terletak di Timur Gunung Merapi, yaitu di daerah
Boyolali. Gunung Bibi memiliki ketinggian 2050 m. Gunung ini terletak 2,5 km
jarak mendatar puncaknya ke Merapi. Umur gunung ini kurang lebih 700.000 tahun
yang lalu. Oleh karenanya gunung ini telah mengalami alterasi.
2.
MERAPI
TUA (±60.000 – 8.000 tahun lalu)
Merapi tua yang ditandai dengan
kerucut belum sempurna ini pertama kali meletus dengan lava basaltik. Produknya
berupa batuan andesit-basaltik yang terbentuk dari awan panas, breksiasi lava
dan lahar. Ekstruksi pertamanya membentuk Gunung Turgo dan Gunung Plawangan.
Kedua Gunung ini diperkirakan memiliki usia 40.000 tahun lalu
3.
MERAPI
PERTENGAHAN (±8.000 – 2.000 tahun lalu)
Periode ini ditandai dengan
terbentuknya Gunung Batulawang dan Gunung Gajahmungkur yang letaknya di lereng
utara Merapi. Kedua gunung ini merupakan hasil dari lelehen lava andesitik.
Ciri khas Merapi yaitu letusan efusif dan eksplosif sudah terjadi sebagai
akibatnya adalah morfologi tapal-kuda dengan
panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Pada periode
ini terbentuk Kawah Pasarbubar.
4.
MERAPI BARU (±2.000 tahun lalu - sekarang)
Batuan dari Gunung
Merapi Tua seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami alterasi dan erosi.
Hal ini terlihat dari hasil studi Berthomier, 1990, yang menjelaskan bahwa dasar
dari Gunung Merapi Baru adalah batuan Gunung Merapi Tua. Periode ini juga
ditandai dengan munculnya kerucut baru di kawah pasarbubar. Kerucut inilah yang
sekarang menjadi pusat aktivitas Gunung Merapi.
Sejak tahun 1768, Merapi tercatat
sudah meletus hampir sebanyak 100 kali. Letusan besar merapi diantaranya
terjadi pada tahun 1872, 1930 dan 2010.
Tahun 1872 : saking besarnya letusan Merapi
dentumannya terdengar hingga kota maduran dan karawang. Selain itu telah
terbentuk kawah berukuran 480 x 600 m2 dan membuka ke arah barat.
Tahun 1930 : memakan korban jiwa hingga 1300 orang dan 2100 binatang.
Letusan yang mirip dengan letusan 1872 terjadi lagi pada tahun 2010.
Pada tahun – tahun sebelumnya
banyak di temukan gejala gejala bahwa Merapi akan meletus dengan kekuatan yang
luar biasa, diantaranya pada tahun :
2006 :
Badan Geologi memetakan bahwa kawah Merapi telah mengalami perubahan dan
membuka ke arah selatan sehingga ancaman terbesar ada di daerah Sleman,
Yogyakarta.
2008 :
Badan Geologi melakukan skenario keselamatan berdasarkan catatan letusan yang
telah ada dan fakta terkini yang terjadi pada Merapi.
2009 :
Aktivitas Merapi naik, hal ini ditandai dengan munculnya SWARM atau rangkaian
gempa beruntun pada waktu singkat.
2010 :
Tepatnya tanggal 10 Juni, tercatat gempa vulkanik mencapi 100 kali perhari dan
terus meningkat.
Berdasarkan catatan gempa 10 Juni
2010 tersebut volume tubuh merapi juga terus bertambah tetapi belum ada tanda –
tanda guguran lava (tanda letusan eksplosif).
Akibat dari anomali ini, BPPTKG
melakukan misi berbahaya pada tanggal 19 Oktober 2010 dengan menaiki puncak
Merapi dengan tujuan mengambil sampel gas CO2. Hasil mengejutkan
terjadi, kandungan gas CO2 mencapai 60%. Atas dasar ini BPPTKG
langsung menaikan status Merapi dan menghimbau seluruh warga lereng Merapi
untuk mengungsi.
KEADAAN SOSIAL DAN
EKONOMI MASYARAKAT
Daerah lereng merapi merupakan
daerah yang termasuk rawan bencana. Mengingat aktivitas Merapi yang tinggi dan
pemukiman yang sangat padat. Masyarakat lereng merapi bisa di bilang mempunyai
kesamaan nasib dalam menghadapi kemungkinan – kemungkinan yang terjadi akibat
aktivitas Merapi. Dengan hal ini warga lereng merapi mempunyai rasa solidaritas
tinggi dan kekeluargaan yang erat. Selain itu dalam hal perekonomian,
masyarakatnya mempunyai mata pencaharian yang relatif sama dengan memanfaatkan
kekayaan alam di sekitarnya. Banyak yang masih berladang, bertani, beternak
atau penambang pasir. Namun mata pencaharian mereka bisa berubah. Misalnya pasca erupsi Oktober 2010, banyak warga yang
kehilangan ladang dan pertaniannya akibat terkubur oleh lahar dingin ataupun
material material erupsi merapi. Begitu juga hewan ternak banyak yang mati
karena terkena awan panas. Kebanyakan warga yang kehilangan mata pencaharian di
bidang itu akan memilih untuk melakukan tambang pasir. Material erupsi berupa
batuan beku dari Merapi menjadi potensial pencaharian yang paling besar untuk
terus di lakoni. Hal ini karena mereka tidak akan kehabisan batuan beku untuk
di tambang menjadi pasir yang nantinya akan dijual.
MANFAAT MATERIAL
GUNUNG MERAPI
Akibat dari letusan gunung merapi ini
bisa berdampak sangat destruktif namun di sisi lain material material yang di
keluarkan bisa sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dari beberapa material
yang dikeluarkan, material padat menjadi material yang paling bisa di
manfaatkan.
Material padat yang di maksud
adalah berupa bom (batuan besar), lapili (batu kerikil) debu, batu apung dan
pasir. Batuan batuan besar bekas erupsi yang tertransportasi bersamaan dengan
lahar dingin akan mengendap ke suatu daerah. Batuan beku ini yang menjadi objek
mata pencaharian warga Merapi. Batuan ini akan ditambang dan digiling untuk
dijadikan batuan yang lebih kecil yang biasanya di manfaatkan dalam bahan
bangunan. Selain itu debu yang bisa mengganggu pernapasan manusia saat
terjadinya hujan abu ternyata mampu memberi efek subur yang luar biasa bagi
tumbuh – tumbuhan. Apalagi abu yang basah merupakan sarana yang baik dalam perkembangan
bijih tumbuhan dan bakteri penyubur tumbuhan,
Selain material padat yang bermanfaat lingkungan bekas erupsi
Merapi sekarang telah menjadi tempat wisata bahkan sudah di akomodasi oleh Dina
Kepariwisataan DIY, yaitu wisata LAVA TOUR. Dengan begitu pasca letusan Merapi
ternyata juga mampu memberi efek positif baik dari segi sosial maupun ekonomi.
DAFTAR
PUSTAKA
Film Mahaguru Merapi
oleh BPPTKG
Rovicky.
2010. SEJARAH MERAPI SEJAK 700.000 TAHUN
YANG LALU. Retrieved from https://rovicky.wordpress.com
Komentar
Posting Komentar